Yuk, pahami konsep cara menanam jahe yang cocok untuk pemula: ✓ kondisi lingkungan ✓ pemilihan bibit ✓ penanaman ✓ panen ✓ penyakit + cara mengatasinya.


Jahe, salah satu komoditi yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Permintaan terhadap tanaman jahe yang tinggi di pasaran lokal maupun luar membuat semakin banyak petani yang mengembangkan budidaya jahe.

Oleh karena itu, pengetahuan mengenai cara menanam jahe yang tepat menjadi syarat utama untuk melakukan budidaya jahe.

Kurangnya pengetahuan mengenai pembudidayaan jahe yang benar dapat menyebabkan berbagai masalah, salah satunya rendahnya produktivitas tanaman.

Bahkan, cara perawatan yang salah berpotensi menyebabkan jahe terserang berbagai penyakit. Untuk itu di bawah ini merupakan cara menanam jahe yang tepat untuk anda.

Cara Menanam Jahe: Bibit → Panen

cara-menanam-jahe-polybag
Sumber Gambar: bp4kgresik.wordpress.com

0. Kondisi Lingkungan yang Ideal untuk Jahe

Agar jahe dapat tumbuh subur, ada beberapa persyaratan kondisi lingkungan yang harus dipenuhi oleh jahe, yaitu:

a) Iklim yang tepat:

  • Jahe lebih ideal tumbuh di lokasi dengan curah hujan yang relative tinggi yaitu antara 2.500 mm/tahun hingga 4000 mm/tahun.
  • Jahe akan tumbuh optimal pada suhu udara 20 sampai 35 derajat Celcius.
  • Tanaman jahe membutuhkan sinar matahari lebih banyak pada usia 2,5 bulan sampai 7 bulan. Oleh karena itu penanaman jahe harus dilakukan di tempat yang terbuka.

b) Ketinggian lokasi tanam

  • Jahe akan lebih ideal tumbuh pada lokasi dengan ketinggian 0 sampai 2000 mdpl.

c) Media tanam:

  • Jahe akan tumbuh baik pada keasaman (pH) tanah normal ataupun sedikit asam yaitu 4,3 sampai 7,4.

1. Pemilihan Bibit Jahe

Bibit yang berkualitas ditandai dengan ciri-ciri berikut ini:

a) Gunakan bibit jahe dari rimpang yang sudah tua dan mengkilap yang diambil langsung dari kebun. Pastikan rimpang tidak terinfeksi oleh pathogen dan sebagainya.

b) Rimpang yang tua dan baik untuk bibit jahe adalah yang sudah berusia Sembilan sampai sepuluh bulan

2. Penyemaian Bibit Jahe

Cara menanam jahe yang benar juga ditentukan oleh tahap penyemaian yang tepat.

a) Jemur rimpang jahe yang sudah dipilih sebelumnya. Jangan biarkan rimpang menjadi terlalu kering. Bolak-balik rimpang jahe selama proses penjemuran agar terkena sinar matahari dengan merata.

b) Pastikan rimpang yang dijemur memiliki dua sampai tiga bakal tunas jahe. Celupkan rimpang ke dalam fungisida selama satu menit untuk mencegah adanya jamur yang menempel.

c) Pilih media semai seperti peti kayu maupun ember besar yang telah diberikan jerami setebal 10 cm. Masukkan rimpang jahe ke atasnya dan tutup dengan abu gosok di atas rimpang jahe. Diamkan  selama dua sampai empat minggu.

3. Mengolah Lahan untuk Tanaman

a) Gemburkan tanah menggunakan cangkul. Jika menginginkan hasil maksimal, anda bisa menambahkan jerami maupun pupuk dengan perbandingan 3:1 agar tanah lebih subur ketika ditanami.

b) Bangun bedengan dengan tinggi 35 cm dan lebar 125 cm. Buat bedengan dengan panjang sesuai dengan jumlah tanaman jahe yang ingin ditanam.

c) Siram dengan air secukupnya agar tanah menjadi basah.

4. Penanaman Jahe

Cara menanam jahe yang benar sebelum memindahkan benih yang telah disemai ke bedengan adalah dengan membersihkan benih jahe dari penyakit.

Caranya cukup mudah, anda hanya perlu mencelupkan jahe yang telah diambil dari media penyemaian selama delapan jam untuk membebaskannya dari penyakit.

Cara menanam jahe ke dalam bedengan dapat dilakukan baik dengan menyisipkan jahe ke dalam tanah maupun dengan membuat lubang terlebih dahulu.

Ketika menanam, aturlah jarak jahe satu sama lain agar tidak saling bertumpuk. Selanjutnya sirami benih yang telah ditanam.

5. Perawatan

Tanaman liar seperti rumput teki memiliki peluang untuk tumbuh di sekeliling tanaman jahe dan menyebabkan penurunan produktivitas.

Oleh karena itu, pada tahap awal setelah penanaman, lakukanlah penyiraman rutin setiap hari agar kebutuhan air tercukupi. Selain itu, anda juga perlu menyiangi rumput di sekeliling tanaman jahe.

Cara menanam jahe selanjutnya adalah dengan memberikan pupuk secara rutin ketika jahe sudah tumbuh cukup besar. Pada saat ini, intensitas penyiraman sudah bisa dikurangi.

Selain diberi pupuk, pemberian obat yang tepat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit juga perlu dilakukan.

Berikut adalah detail perawatan jahe:

a) Penyulaman

Pada saat jahe telah berusia dua sampai tiga minggu lakukanlah penyulaman pada tanaman yang mati ataupun layu. Cabut tanaman tersebut dan ganti dengan tanaman jahe yang baru.

Pada saat anda mencabut tanaman jahe yang sudah mati ada baiknya anda melakukan pemeriksaan penyebab ataupun gejala pada tanaman tersebut.

Tanaman yang mati akibat penyakit seperti penyakit layu bakteri berisiko meninggalkan bakteri di lokasi penanaman tersebut.

Bakteri ini akan menginfeksi tanaman yang anda sulam selanjutnya sehingga menyebabkan kegagalan panen.

Jika kematian akibat infeksi bakteri, segera sirami lubang tanah bekas tanaman dengan kapur maupun antibiotik. Hal ini untuk mencegah tanaman baru terserang penyakit.

b) Penyiangan

Cara menanam jahe berikutnya adalah dengan menyiangi tanaman setiap 2 sampai 4 minggu sekali. Bersihkan rumput liar yang tumbuh di sekeliling tanaman karena akan mengganggu produktivitas.

Setelah itu, lanjutkan penyiangan selama 3 sampai 6 minggu sekali. Ketika jahe telah berumur 7 bulan maka henitkan penyiangan.

c) Pembubunan

Pembubunan adalah proses penimbunan tanah yang dilakukan pada pangkal rumpun tanaman. Fungsi dari pembubunan salah satunya adalah untuk menegakkan tanaman.

Hal ini penting dilakukan mengingat tanah yang ada di sekitar tanaman berpotensi terkikis ketika diriam oleh air, baik air irigasi maupun hujan sehingga penting dilakukan pembubunan setelah beberapa lama tanaman ditanam.

Agar tanaman jahe dapat tumbuh dengan maksimal, maka penting untuk mengkondisikan tanah agar dapat mengalirkan udara dan air ke dalam tanaman jahe.

Selain itu, apabila sebagian akar tanaman jahe telah muncul ke permukaan, sebaiknya segera lakukan pembubunan.

d) Berikan Pupuk

Pupuk penting agar jahe dapat tumbuh dengan optimal dengan hasil yang memuaskan. Ada dua jenis pupuk yang bisa anda pilih, yaitu pupuk kandang maupun pupuk kimia.

Pupuk kandang membutuhkan jumlah yang lebih banyak dibanding pupuk kimia namun tentu efek negatifnya pada tanaman dan tanah lebih sedikit.

e) Nutrisi untuk Jahe

Untuk memahami kadar nutrisi yang dibutuhkan, anda harus memahami bahwa jumlah nutrisi yang dibutuhkan jahe sebenarnya membentuk kurva eksponensial. Maksudnya adalah jumlah nutrisi yang dibutuhkan jahe akan meningkat perlahan hingga naik dengan pesat.

Jahe pada fase bibit tidak terlalu membutuhkan nutrisi yang banyak dari luar. Hal ini dikarenakan jahe telah memiliki simpanan makanan pada rimpangnya.

Oleh sebab itu, serapan nutrisi dari dalam tanah pada fase ini kecil. Menurut jurnal penelitian dikatakan bahwa efisiensi pupuk Nitrogen hanya mencapai 20%.

Ketika masuk fase percabangan tiga serta pembesaran rimpang, maka jahe sudah membutuhkan lebih banyak nutrisi.

Nutrisi yang dibutuhkan jahe dari yang paling tinggi hingga paling sedikit dibutuhkan adalah Kalium, Nitrogen, Magnesium, Kalsium dan Phospor. Pupuk yang lebih banyak mengandung Nitrogen dan Phospor kurang tepat diberikan dalam jumlah banyak pada jahe.

Tekstur tanah sebaiknya tanah laterik, lempung berpasir dan liat berpasir. Jahe sebaiknya ditanam di tanah yang gembur, banyak mengandung humus dan nutrisi.

6. Proses Panen

cara-panen-jahe

Jahe yang sudah bisa dipanen umumnya yang sudah berusia 8 sampai 12 bulan, bisa juga tergantung permintaan pasar.

Jahe yang ditujukan untuk bumbu masak umumnya adalah jahe yang berusia 8 bulan atau belum terlalu tua. Namun, jika jahe ditujukan untuk bibit jahe berikutnya, maka pilihlah yang berusia 12 bulan atau rimpangnya sudah cukup tua.

Ciri-ciri tanaman jahe yang sudah mongering adalah tanaman tersebut memiliki daun yang sudah berubah warna dari hijau menjadi kuning serta batang telah mongering.

Berikut ini adalah cara panen jahe yang tepat:

a) Proses pembongkaran lahan tanam

Proses pembongkaran lahan tanam dapat dilakukan baik menggunakan cangkul maupun alat garpu. Lakukan pembongkaran lahan tanam dengan hati-hati agar tanaman tidak terluka.

b) Pengumpulan jahe

Jahe dikumpulkan di lokasi yang cukup dekat dengan lokasi penanaman jahe. Hal ini agar jahe tidak mudah rusak selama pengiriman ke tempat pengumpulan.

Anda bisa menggunakan karung ataupun keranjang untuk mengangkut jahe dari tempat penanaman ke pengumpulan.

c) Pembersihan jahe

Bersihkan rimpang jahe dari tanah serta kotoran yang menempel. Jika diperlukan proses pencucian maka cuclah jahe sampai bersih.

Selanjutnya jahe dijemur di atas papan maupun daun pisang selama seminggu. Untuk menyimpan jahe gunakan tempat yang terbuka dan tidak lembab. Hal ini untuk mencegah jahe busuk dan sebagainya.

Itulah beberapa panduan mengenai cara menanam jahe yang tepat hingga proses panennya. Usahakan anda memanen jahe sebelum musim penghujan tiba.

Panen pada musim hujan berpotensi menyebabkan rimpang menjadi rusak karena lebih banyak kadar air dibanding bahan aktif pada tanah.


Penyakit dan Cara Mengatasinya

Tidak hanya cara menanam jahe, anda juga harus mengetahui penyakit apa saja yang biasanya menyerang jahe agar budidaya tanaman jahe anda berhasil.

Terkait penyakit ataupun hama yang menyerang jahe ini bahkan dapat merusak sampai 90% populasi dari jahe yang ditanam sehingga besar kemungkinan menyebabkan gagal panen.

 OPT atau Organisme Pengganggu Tanaman yang biasanya menyerang jahe ada berbagai macam.

Berikut ini adalah berbagai penyakit maupun hama yang kerap mengganggu pertumbuhan tanaman jahe.

1. Tumbuhan Liar

Penanggulangan hama kategori ini cukup mudah yaitu dengan menyiangi tanaman jahe. Usahakan untuk sering menyiangi tanaman jahe beberapa hari sekali.

Selain itu, penanaman di dalam polybag maupun karung akan lebih mudah dalam menangani hama pengganggu ini. Anda juga dapat mengatasi hama pengganggu ini dengan memberikan obat penghambat gulma.

2. Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum)

Penyakit layu bakteri bisa dikatakan masuk ke dalam permasalahan utama yang kerap menyerang budidaya jahe di daerah tropis maupun sub tropis dengan iklim lembab. Penyakit ini kerap menyerang perkebunan jahe di Indonesia.

Budidaya jahe yang terserang penyakit ini dapat menyebabkan produksi rimpang jahe menurun hingga 90%.

Gejala penyakit ini umumnya sudah muncul sejak tanaman jahe berumur tiga sampai empat bulan. Gejala ditandai dengan daun yang menggulung dan berubah warna menjadi kekuningan.

Warna kuning pada daun akan muncul pada bagian tepi yang akan menyebar ke seluruh bagian daun. Pada akhirnya, seluruh bagian daun akan layu dan mongering dan berujung kematian tanaman.

Tanaman yang terserang penyakit ini akan mudah dicabut dari rimpangnya. Ketika anda menekan batang tanaman yang terserang penyakit layu bakteri, maka akan muncul cairan bakteri yang berwarna putih susu dengan bau menyengat.

Bakteri yang keluar ini merupakan R. salanacearum yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman jahe.

Bakteri R. salanacearum yang menyebabkan penyakit layu bakteri akan bertahan hidup dalam waktu lama di dalam tanah. Oleh sebab itu penularan penyakit ini akan mudah terjadi di dalam tanah dan menyebar melalui akar tanaman maupun air di dalam tanah.

Pengendalian penyakit layu bakteri sulit dilakukan. Para ahli menyarankan cara yang paling tepat adalah dengan mencegah timbulnya penyakit layu bakteri di lapangan (preventif).

 Cara mencegah penyakit layu bakteri:

a) Gunakan benih yang sehat

Cara menanam jahe yang tepat agar tidak tertular penyakit layu bakteri adalah dengan memilih benih yang sehat sebelum ditanam. Pilih rimpang yang sudah tua dengan warna mengkilat untuk benih tanaman.

Untuk mencegah penggunaan rimpang yang telah tertular bakteri, sebaiknya berikan pestisida organik atau antibiotic untuk membunuh pathogen yang terbawa.

b) Sanitasi

Cara menanam jahe yang benar adalah dengan mempersiapkan sanitasi yang sebelum serangan sudah meluas.

Apabila telah terdapat tanaman yang terserang, segera cabut dari kebun dan langsung dibakar. Tempat atau lahan yang telah terinfeksi penyakit segera ditaburi kapur maupun disiram antibiotik.

c) Mengkondisikan lahan bebas pathogen

Ada beberapa lahan yang berpotensi terbebas dari infeksi bakteri ini seperti lahan bekas sawah dengan sistem irigasi teknis.

Hal ini dikarenakan sifat bakteri R. salanacearum adalah aerobic sehingga tanaman tidak dapat tumbuh pada lahan yang an aerob.

Sebaiknya hindari penanaman jahe di lahan yang sama secara berturut-turut. Hal ini untuk menghindari potensi adanya bakteri R. salanacearum di dalam tanah.

Sementara itu, ada kemungkinan penanaman jahe di lahan bekas tanaman sambiloto memiliki kemungkinan terhindar dari serangan bakteri R. salanacearum. Hanya saja hal ini masih  memerlukan penelitian lebih lanjut.

d) Memperbaiki kondisi lingkungan

Bakteri akan berkembang subur pada kondisi lingkungan yang panas dan lembab. Untuk mengurangi potensi terdampak bakteri R. salanacearum, sebaiknya atur jarak tanam agar kondisi lingkungan tidak begitu lembab.

Selain itu, menyiangi gulma di sekeliling tanaman bisa menjadi salah satu cara pencegahan yang tepat. Hal ini dikarenakan beberapa gulma merupakan inang yang baik untuk bakteri.


Penutup

hasil olahan menanam jahe

Itulah beberapa hal terkait cara menanam jahe yang patut diketahui. Pembibitan yang tepat hingga pemberian nutrisi yang optimal akan sangat menentukan kualitas dan produksi jahe yang dihasilkan.

Selain itu, pastikan anda memeriksa kondisi tanaman untuk mencegahnya terserang dari hama dan penyakit.

Semoga panduan cara menanam jahe ini bermanfaat, ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *